Kamis, 18 Mei 2017

Tsuchinoko



Model tsuchinoko dari plastik
Tsuchinoko (ツチノコ?) adalah hewan yang dilaporkan ada di Jepang tetapi belum pernah bisa dibuktikan (kriptid). Bentuknya seperti ular namun berperut gendut mirip botol atau pin boling dengan ekor yang kecil mirip ekor tikus. Hewan ini dilaporkan pernah "dilihat" saksi mata di berbagai tempat di Jepang, kecuali di Hokkaido dan Kepulauan Ryukyu. Hingga kini, tsuchinoko belum pernah berhasil ditangkap orang karena saksi mata menjadi takut, atau hewan ini lebih dulu melarikan diri.
Nama "Tsuchinoko" berasal dari nama lokal untuk "hewan" ini menurut penduduk daerah Kansai (KyotoMieNara, dan Shikoku). Di daerah Kanto, penduduk menyebutnya sebagai bachihebi. Beberapa pemerintah daerah di Jepang menawarkan hadiah uang dalam jumlah besar bagi orang yang berhasil menangkap tsuchinoko. Hadiah uang sebesar 100 juta yen pernah ditawarkan kota ItoigawaNiigata[1]

Pemerian

Ilustrasi makhluk yang disebut notsuchidalam buku "Shinano Kishōroku" oleh Ide Michisada (1757-1842) adalah gambar tertua mengenai tsuchinoko.
Ilustrasinotsuchi dalam buku "Noyama Somoku Tsushi" karya Kuroda Suizan (1792-1859)
Saksi mata yang mengaku pernah "melihat" tsuchinoko melaporkan ciri fisik dan tingkah laku sebagai berikut:
  • Dibandingkan dengan ular biasa, bagian perut sedikit agak gendut[2]
  • Kuat meloncat hingga sekitar 2 meter,[3] atau menurut sumber lain dapat meloncat ke depan hingga 2 meter dengan ketinggian 5 meter,[4] atau hingga 10 meter.[5]
  • Suka minum sake[4]
  • Bisa berbunyi "chii"[4]
  • Bergerak dengan sangat cepat[6]
  • Cara bergerak seperti ulat,[4] atau menggulung diri sambil menggigit bagian ekor dan berputar bagaikan roda[3]
  • Berbunyi seperti mendengkur[6]
  • Senang dengan bau misocumi-cumirambut manusia yang dipanggang[4]
  • Ada jenis yang berbisa.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Penjelasan yang masuk akal[sunting | sunting sumber]

Kadal lidah biru (Tiliqua scincoides) dari genus Tiliqua yang memiliki kaki sangat kecil.
Kemungkinan besar, orang hanya salah melihat saja. Perut ular yang baru saja menelan mangsa berukuran besar akan membesar seperti sosok tsuchinoko yang dilaporkan saksi mata. Selain itu, tsuchinoko mirip dengan kadal genus Tiliqua yang masuk ke Jepang sebagai hewan peliharaan sejak sekitar tahun 1970-an. Kadal tersebut memiliki kaki yang kecil dan hampir tidak terlihat, sehingga di tengah kerimbunan dapat disangka sebagai tsuchinoko.

Ubume

Ubume (kanji Jepang: 姑獲鳥 hiragana:うぶめ) adalah hantu wanita yang mati sebelum melahirkan anaknya.[1] Nama lainnya adalah obo, unme, ugume, ubametori. Menghuni di tempat di mana ia melahirkan.[2] Kisah ubume diceritakan pertama kali pada abad ke-12 dalam gulungan ke-17 Konjyaku Monogatari.[3]
Lukisan Ubume berlumuran darah.

Sekilas

Ketika seorang wanita mati sebelum, saat, atau sehabis melahirkan, biasanya arwahnya tak dapat bergerak bebas karena kekhawatiran terhadap anaknya sehingga Ia berubah menjadi ubume.[4] Mereka tampak pada malam yang gelap dan hujan, dan biasanya berjalan-jalan sambil membawa anak meminta pertolongan.[4] Jika ada ibu yang mati setelah melahirkan tetapi bayinya hidup, ubume akan memberikan perawatan pada bayi itu dengan segala cara yang Ia biasa.[1] Ubume akan memasuki rumah atau toko dan membeli makanan, pakaian, atau maninan untuk bayi yang masih hidup tersebut.[4] Uang yang digunakannya untuk membayar berubah menjadi daun tidak lama setelah itu.[4] Ubume juga terkadang mengiring manusia ke tempat di mana bayi telantar untuk diurus oleh orang tersebut.[4]

Ciri fisik

Ubume tampak dalam jubah putih, rambut panjang kusut terurai, dan wajahnya peyot.[2] Yokai ini juga dapat tampak dalam berbagai wujud: wanita yang membawa bayi, wanita hamil, wanita berlumuran darah sambil membawa janin muda.[2] Versi lain mengatakan Ia menyerupai wanita hamil telanjang yang menangis tersedu-sedu meminta pertolongan.[2]

Legenda

Kisah mengenai ubume terbagi menjadi dua versi, dan satu di antaranya berada di gulungan Konjyaku Monogatariterletak di nomor 43 dengan judul Kisah Urabe Suetake sang Pemberani.[3] Dalam kisah tersebut diceritakan seorang pemuda bernama Suetake yang berani menantang teman-temannya untuk melewati sungai angker di mana ubume berada.[3] Dalam perjalanannya, Suetake bertemu ubume dan dimintai tolong untuk membawakan anaknya.[3] Dia pun menggendong anaknya dan lari menyusuri sungai untuk membuktikan pada teman-temannya mengenai keberanian dirinya.[3] Sesampainya di sana, Suetake pun menunjukkan bayi yang diambilnya, namun ternyata itu hanyalah kumpulan sampah daun yang dipadatkan menyerupai bayi manusia.[3]
Kisah lainnya adalah diketahui bahwa di sepanjang sungai Sumida dekat daerah Tsukiji, terdapat beberapa penjual ikan dan sake manis untuk anak-anak yang dikenal dengan amazake.[3] Suatu malam, datang seorang wanita sambil menggenggam bayinya dan membelikan anaknya sake manis.[3] Sang penjual mulai merasakan sesuatu yang aneh pada wanita itu, dan memutuskan untuk mengikutinya.[3] Dia pun sampai di sebuah kuil, dan terkejut mengetahui wanita itu telah menghilang di kegelapan.[3] Dalam gelap, Ia mendengar suara tangisan bayi di area pekuburan dekat kuil, dan mencari asal suara tangisan tersebut.[3] Melihat ada kuburan yang baru saja dibuat, dia meminta orang lain untuk membantu menggali kuburan tersebut, dan terkesiap melihat seorang bayi menangis dipelukan seorang mayat wanita.[3]
Ilustrasi kisah Suetake Sang Pemberani yang mengambil anak dari Ubume.

Intrepretasi

Kekuatan dari cinta ibu membuat mereka tetap eksis secara fisik di dunia nyata untuk mencari anaknya yang gagal ditolong.[1] Biasanya mereka kembali ke dunia manusia untuk menolong anak-anak yang membutuhkan dan pergi meninggalkan kenang-kenangan untuk anak itu secara misterius.[1] Kisah ubume melambangkan pentingnya kisah kasih seorang ibu, dan kisah ini sangat populer di Jepang.[1]
Nama ubume tertulis dengan karakter yang berarti “burung pencuri anak-anak” dan beberapa teori menghubungkan arwah ini dengan yokai lainnya bernamaubumetori.[1] Yokai ini adalah burung jahat yang suka mencuri bayi dan membawanya dalam langit malam

Funayurei

Funayurei (bahasa Jepang: 船幽霊 atauふなゆうれい) yang berarti “perahu hantu” adalah hantu yang mati ketika berlayar di laut lepas menurut mitologi Jepang.[1] Funayurei diartikan juga sekumpulan orang yang mati di laut lalu membentuk koloni pasukan kapal berhantu. Mereka memilki kekuatan supranatural yang kuat, untuk meneror dan menakuti nelayan lokal di Jepang[2] Kisah lainnya mengatakan funayurei adalah bayangan para pelaut yang mati penasaran dan bergentayangan di dunia manusia untuk mencari kawan yang selanjutnya ditenggelamkan bersama-sama dengan mereka.[3] Nama lain dari hantu ini adalah ayakashi.[4]
Lukisan funayurei berusaha menenggelamkan kapal mangsa.

Sekilas

  • Rumor: Funayurei dirumorkan adalah seseorang yang diperkosa secara beramai-ramai oleh sekelompok bajak laut, lalu ditenggelamkan hidup-hidup di laut lepas.[2] Ruh itu lalu mendendam dan mereka hanya menyerang kapal yang tidak memiliki penumpang wanita dan anak-anak.[2] Hantu ini dikabarkan pernah muncul pada tahun 1969 di daerah Kanagawa.[2] Lalu, pada tahun 1954 sebuah perahu bernama Toya Maru tenggelam secara misterius, kecelakaan ini dipercaya merupakan ulah funayurei.[2]
  • Ketika sebuah perahu berlayar ke laut pada saat malam tahun baru, perahu itu pasti akan bertemu funayurei. [5]
  • Penampakan: Seperti hantu-hantu kebanyakan, funayurei biasanya tampak seperti mayat hidup yang mengenakan jubah orang mati.[3] Mereka dapat dilihat di malam hari, ketika bulan purnama, atau pada saat malam badai dan berkabut, terutama selama Obon.[3] Pertama-tama mereka tampil dengan kabut bercahaya, lalu semakin dekat menjelma menjadi sebuah kapal dengan pasukan berhantu.[3]

Perilaku[sunting | sunting sumber]

Funayurei menyerang dengan berbagai macam cara, yaitu menabrakkan kapalnya ke kapal target dan membuatnya terbalik, atau menugaskan pasukannya untuk mendorong kuat-kuat kapal target dan membalikkannya.[3] Para hantu itu juga membawa gayung dan ember yang digunakan untuk mengisi perahu target hingga penuh, dan menenggelamkannya agar mereka memperoleh roh anggota baru.[3]
Terkadang funayurei menyerang bukan dengan segerombolan pasukan besar, tetapi dengan satu setan besar yang langsung menenggalamkan perahu.[3] Funayurei besar ini terkadang disalahartikan dengan umibozu, sebuah yokaiyang juga muncul dan menyerang dengan cara yang sama.[3]
Versi lainnya menceritakan pernah seorang pelaut secara tidak sadar mempersilakan funayurei menaiki perahunya.[1]Setelah naik, funayurei akan meminta hishaku atau gayung air.[1] Jika permintaannya dikabulkan, maka Ia akan menggunakan gayung itu untuk mengeruk air di laut dan memenuhi seisi perahu dengan air hingga perahu itu tenggelam.[1]
Pernah suatu hari seorang nelayan cerdas mengelabui funayurei dengan memberikannya gayung dan ember berlubang.[1] Dengan cara ini funayurei takkan mampu mengisi perahu dengan air.[1] Selain itu juga terdapat taktik untuk menghindari pertemuan langsung dengan funayurei, yaitu dengan menabrakkan kapal langsung ke kapal funayurei, tetapi cara ini sangat beresiko apabila kapal tersebut ternyata bukanlah funayurei. [2] Beberapa pelaut juga pernah lari dari amukan funayurei dengan cara melemparkan mereka makanan, sehingga para setan itu mengejarkan makanan bukan manusia. [2]
Gambar legenda funayurei dan dua orang nelayan.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Suatu hari, di Mizushimanada sebuah daerah di Laut Seto (daerah baratOkayama) terdapat sebuah perahu berisi dua orang pria menyusuri laut dengan sangat pelan sambil membawa barang-barang untuk festival tahun baru.[5] Di malam yang gelap, mereka terus mengayuh dayung dengan cepat, tetapi tiba-tiba hujan deras turun.[5] Tahu cuaca sangat tidak bersahabat, mereka tidak berhenti mendayung meskipun hujan memukul-mukul wajah mereka.[5] Selang beberapa saat, perahu mereka terhenti mendadak seakan-akan ada sesuatu yang menahan mereka.[5] Dari kejauhan, mereka melihat bola-bola api beterbangan diselimuti kabut. [5] Semakin dekat, mereka semakin paham bahwa itu adalah makhluk yang mereka takutkan selama ini, funayurei.[5] Sang funayurei lalu meminta hishaku, sejenis gayung untuk mengeruk air.[5] Kedua nelayan itu pun menolak, karena mengetahui apa yang akan terjadi dengan mereka.[5] Dengan ketakutan yang amat sangat, nelayan itu menarik kayuh dengan kuat, namun funayurei belum menyerah, hantu itu merebut paksa salah satu kayuh dari mereka.[5] Panik, salah seorang nelayan itu menyalakan lentera yang tersimpan di perahu, dan ternyata funayurei takut dengan nyala api, lalu pergilah mereka.[5] Legenda ini berasal dari daerah Okayama, dari buku dongeng zaman Edo yang berjudul “Kasshi Yawa.”[4]Para nelayan di desa itu masih menjual sendok hishaku dengan lubang untuk mengusir funayurei
Yūrei (幽霊?) adalah figur dalam cerita rakyat Jepang, yang sepadan dengan hantu. Istilah tersebut terdiri dari dua huruf kanji (), berarti "redup" atau "samar", dan (rei), berarti "jiwa" atau "spirit." Nama alternatifnya antara lain Bōrei (亡霊?) yang berarti arwah orang meninggal, Shiryō (死霊?) berarti jiwa orang mati, atau dalam pengertian yang lebih luas meliputi Yōkai (妖怪?) atau Obake (お化け?). Seperti padanan mereka dalam mitologi Tionghoa dan Barat, mereka diyakini sebagai jiwa setelah mati.

Mitologi

Menurut kepercayaan masyarakat Jepang, manusia memiliki spirit atau jiwa yang disebutreikon (霊魂?). Saat seseorang meninggal, reikon meninggalkan jasad dan memasuki tempat penyucian, tempat mereka menunggu selama upacara pemakaman dan pasacapemakaman dilaksanakan dengan layak, agar mereka dapat berkumpul dengan para leluhur. Jika ritual dilaksanakan dengan benar, maka reikon dipercaya sebagai pelindung keluarganya yang masih hidup dan akan kembali tiap tahun di bulan Agustussaat hari raya Obon untuk menerima ungkapan terima kasih.
Bagi seseorang yang tewas dalam cara yang tak lazim atau secara sadis, misalnyadibunuh atau bunuh diri, dan bila ritual yang benar tidak dilaksanakan, atau bila almarhum masih dipengaruhi emosi yang kuat seperti balas dendamasmara,kecemburuankebencian, atau kesedihan, maka reikon dipercaya akan berubah menjadi yūrei, yang dapat menyebrangi batas antara alam baka dengan alam fana (dunia manusia).
Yūrei berada di dunia manusia sampai ia menjadi tenang, baik dengan cara mendoakannya melalui upacara pemakaman yang layak dan benar, atau dengan memenuhi keinginan yang belum tercapai yang masih membelenggunya di dunia fana. Jika upacara tidak berlangsung dengan semestinya, atau bila keinginannya belum terpenuhi, maka yūrei akan tetap bergentayangan.

Ciri

Pada akhir abad ke-17, permainan yang disebut Hyakumonogatari Kaidankai menjadi populer, dan kaidan (cerita hantu) semakin sering menjadi subjek pementasan teaterliteratur, dan cabang seni lainnya. Pada masa tersebut, atribut-atribut tertentu disematkan untuk membedakan yūrei dengan manusia biasa, sehingga karakter yūrei lebih mudah dikenali.
Seniman ukiyo-eMaruyama Ōkyo membuat contoh terkenal pertama yang kini dikenali sebagai sosok yūrei secara tradisional, dalam lukisan Hantu Oyuki.
Pada masa kini, penampakan yūrei agaknya seragam, yang secara sederhana mengindikasikan sifatnya yang gaib, dan keaslian ciri kultural sosok tersebut sangat terasa.
  • Pakaian putih: biasanya Yūrei berpakaian serba putih, mencirikan tradisi kimono putih saat upacara pemakaman yang digunakan sejak upacara pemakaman zaman Edo. Dalam agama Shinto, pakaian putih dipakai karena putih adalah warna yang melambangkan kemurnian upacara, yang secara tradisional dipakai oleh para pendeta dan jasad yang dimakamkan. Kimono tersebut dapat berupa katabira (kimono polos, putih, tak bergaris) ataukyokatabira (katabira putih yang ditulis sutra Buddha). Kadangkala yūrei memakai hitaikakushi ("ikat kepala"), berupa potongan kain berbentuk segitiga yang diikat di dahi.
  • Rambut hitam: Biasanya rambut yūrei panjang, hitam, dan acak-acakan.
  • Tangan dan kaki: Tangan yūrei menjuntai lemas. Ciri khasnya tidak memiliki kaki, sehingga melayang di udara. Ciri ini berasal dari cetakan ukiyo-e zaman Edo, dan disebarluaskan dalam pementasan kabuki.
  • Hitodama: Seringkali yūrei ditemani oleh bola api atau hitodama, dengan warna biru, hijau, atau ungu. Bola api tersebut merupakan bagian terpisah dari yūrei dan bukan merupakan hantu tersendiri.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Meskipun makhluk kategori hantu Jepang disebut yūrei, dalam kategori tersebut ada beberapa tipe hantu berciri khusus, yang diklasifikasikan terutama menurt cara kematian atau alasan mereka kembali ke dunia manusia.
  • Onryō: Arwah penasaran yang kembali dari tempat penyucian karena perbuatan jahat yang dilakukan pada mereka saat mereka masih hidup.
  • Ubume: Hantu ibu yang meninggal saat melahirkan, atau meninggalkan bayinya yang baru lahir. Yūrei ini gentayangan untuk merasakan bagaimana mengasuh anak dan seringkali memberi manisan kepada anak-anak.
  • Goryō: Arwah penasaran dari golongan pejabat atau bangsawan, khususnya bagi yang dihukum mati demi mempertahankan prinsipnya atau karena masalah politik.
  • Funayūrei: Hantu orang yang tewas di laut. Hantu tersebut biasanya digambarkan sebagai sosok manusia bersisik ikan dan beberapa di antaranya berwujud menyerupai duyung.
  • Zashiki-warashi: Hantu anak-anak, seringkali bertingkah nakal daripada berbahaya.
  • Hantu Samurai: Para veteran Perang Genpei yang gugur dalam pertempuran. Hantu Kesatria biasanya tampil istimewa dalam pertunjukan Noh. Tidak seperti kebanyakan yūrei, hantu ini biasanya digambarkan berkaki.
  • Hantu Pemikat: Hantu wanita atau pria yang berkeinginan merasakan cinta setelah kematiannya, seperti yang dikisahkan dalam Botan Dōrō.