Kamis, 18 Mei 2017

Ubume

Ubume (kanji Jepang: 姑獲鳥 hiragana:うぶめ) adalah hantu wanita yang mati sebelum melahirkan anaknya.[1] Nama lainnya adalah obo, unme, ugume, ubametori. Menghuni di tempat di mana ia melahirkan.[2] Kisah ubume diceritakan pertama kali pada abad ke-12 dalam gulungan ke-17 Konjyaku Monogatari.[3]
Lukisan Ubume berlumuran darah.

Sekilas

Ketika seorang wanita mati sebelum, saat, atau sehabis melahirkan, biasanya arwahnya tak dapat bergerak bebas karena kekhawatiran terhadap anaknya sehingga Ia berubah menjadi ubume.[4] Mereka tampak pada malam yang gelap dan hujan, dan biasanya berjalan-jalan sambil membawa anak meminta pertolongan.[4] Jika ada ibu yang mati setelah melahirkan tetapi bayinya hidup, ubume akan memberikan perawatan pada bayi itu dengan segala cara yang Ia biasa.[1] Ubume akan memasuki rumah atau toko dan membeli makanan, pakaian, atau maninan untuk bayi yang masih hidup tersebut.[4] Uang yang digunakannya untuk membayar berubah menjadi daun tidak lama setelah itu.[4] Ubume juga terkadang mengiring manusia ke tempat di mana bayi telantar untuk diurus oleh orang tersebut.[4]

Ciri fisik

Ubume tampak dalam jubah putih, rambut panjang kusut terurai, dan wajahnya peyot.[2] Yokai ini juga dapat tampak dalam berbagai wujud: wanita yang membawa bayi, wanita hamil, wanita berlumuran darah sambil membawa janin muda.[2] Versi lain mengatakan Ia menyerupai wanita hamil telanjang yang menangis tersedu-sedu meminta pertolongan.[2]

Legenda

Kisah mengenai ubume terbagi menjadi dua versi, dan satu di antaranya berada di gulungan Konjyaku Monogatariterletak di nomor 43 dengan judul Kisah Urabe Suetake sang Pemberani.[3] Dalam kisah tersebut diceritakan seorang pemuda bernama Suetake yang berani menantang teman-temannya untuk melewati sungai angker di mana ubume berada.[3] Dalam perjalanannya, Suetake bertemu ubume dan dimintai tolong untuk membawakan anaknya.[3] Dia pun menggendong anaknya dan lari menyusuri sungai untuk membuktikan pada teman-temannya mengenai keberanian dirinya.[3] Sesampainya di sana, Suetake pun menunjukkan bayi yang diambilnya, namun ternyata itu hanyalah kumpulan sampah daun yang dipadatkan menyerupai bayi manusia.[3]
Kisah lainnya adalah diketahui bahwa di sepanjang sungai Sumida dekat daerah Tsukiji, terdapat beberapa penjual ikan dan sake manis untuk anak-anak yang dikenal dengan amazake.[3] Suatu malam, datang seorang wanita sambil menggenggam bayinya dan membelikan anaknya sake manis.[3] Sang penjual mulai merasakan sesuatu yang aneh pada wanita itu, dan memutuskan untuk mengikutinya.[3] Dia pun sampai di sebuah kuil, dan terkejut mengetahui wanita itu telah menghilang di kegelapan.[3] Dalam gelap, Ia mendengar suara tangisan bayi di area pekuburan dekat kuil, dan mencari asal suara tangisan tersebut.[3] Melihat ada kuburan yang baru saja dibuat, dia meminta orang lain untuk membantu menggali kuburan tersebut, dan terkesiap melihat seorang bayi menangis dipelukan seorang mayat wanita.[3]
Ilustrasi kisah Suetake Sang Pemberani yang mengambil anak dari Ubume.

Intrepretasi

Kekuatan dari cinta ibu membuat mereka tetap eksis secara fisik di dunia nyata untuk mencari anaknya yang gagal ditolong.[1] Biasanya mereka kembali ke dunia manusia untuk menolong anak-anak yang membutuhkan dan pergi meninggalkan kenang-kenangan untuk anak itu secara misterius.[1] Kisah ubume melambangkan pentingnya kisah kasih seorang ibu, dan kisah ini sangat populer di Jepang.[1]
Nama ubume tertulis dengan karakter yang berarti “burung pencuri anak-anak” dan beberapa teori menghubungkan arwah ini dengan yokai lainnya bernamaubumetori.[1] Yokai ini adalah burung jahat yang suka mencuri bayi dan membawanya dalam langit malam

Funayurei

Funayurei (bahasa Jepang: 船幽霊 atauふなゆうれい) yang berarti “perahu hantu” adalah hantu yang mati ketika berlayar di laut lepas menurut mitologi Jepang.[1] Funayurei diartikan juga sekumpulan orang yang mati di laut lalu membentuk koloni pasukan kapal berhantu. Mereka memilki kekuatan supranatural yang kuat, untuk meneror dan menakuti nelayan lokal di Jepang[2] Kisah lainnya mengatakan funayurei adalah bayangan para pelaut yang mati penasaran dan bergentayangan di dunia manusia untuk mencari kawan yang selanjutnya ditenggelamkan bersama-sama dengan mereka.[3] Nama lain dari hantu ini adalah ayakashi.[4]
Lukisan funayurei berusaha menenggelamkan kapal mangsa.

Sekilas

  • Rumor: Funayurei dirumorkan adalah seseorang yang diperkosa secara beramai-ramai oleh sekelompok bajak laut, lalu ditenggelamkan hidup-hidup di laut lepas.[2] Ruh itu lalu mendendam dan mereka hanya menyerang kapal yang tidak memiliki penumpang wanita dan anak-anak.[2] Hantu ini dikabarkan pernah muncul pada tahun 1969 di daerah Kanagawa.[2] Lalu, pada tahun 1954 sebuah perahu bernama Toya Maru tenggelam secara misterius, kecelakaan ini dipercaya merupakan ulah funayurei.[2]
  • Ketika sebuah perahu berlayar ke laut pada saat malam tahun baru, perahu itu pasti akan bertemu funayurei. [5]
  • Penampakan: Seperti hantu-hantu kebanyakan, funayurei biasanya tampak seperti mayat hidup yang mengenakan jubah orang mati.[3] Mereka dapat dilihat di malam hari, ketika bulan purnama, atau pada saat malam badai dan berkabut, terutama selama Obon.[3] Pertama-tama mereka tampil dengan kabut bercahaya, lalu semakin dekat menjelma menjadi sebuah kapal dengan pasukan berhantu.[3]

Perilaku[sunting | sunting sumber]

Funayurei menyerang dengan berbagai macam cara, yaitu menabrakkan kapalnya ke kapal target dan membuatnya terbalik, atau menugaskan pasukannya untuk mendorong kuat-kuat kapal target dan membalikkannya.[3] Para hantu itu juga membawa gayung dan ember yang digunakan untuk mengisi perahu target hingga penuh, dan menenggelamkannya agar mereka memperoleh roh anggota baru.[3]
Terkadang funayurei menyerang bukan dengan segerombolan pasukan besar, tetapi dengan satu setan besar yang langsung menenggalamkan perahu.[3] Funayurei besar ini terkadang disalahartikan dengan umibozu, sebuah yokaiyang juga muncul dan menyerang dengan cara yang sama.[3]
Versi lainnya menceritakan pernah seorang pelaut secara tidak sadar mempersilakan funayurei menaiki perahunya.[1]Setelah naik, funayurei akan meminta hishaku atau gayung air.[1] Jika permintaannya dikabulkan, maka Ia akan menggunakan gayung itu untuk mengeruk air di laut dan memenuhi seisi perahu dengan air hingga perahu itu tenggelam.[1]
Pernah suatu hari seorang nelayan cerdas mengelabui funayurei dengan memberikannya gayung dan ember berlubang.[1] Dengan cara ini funayurei takkan mampu mengisi perahu dengan air.[1] Selain itu juga terdapat taktik untuk menghindari pertemuan langsung dengan funayurei, yaitu dengan menabrakkan kapal langsung ke kapal funayurei, tetapi cara ini sangat beresiko apabila kapal tersebut ternyata bukanlah funayurei. [2] Beberapa pelaut juga pernah lari dari amukan funayurei dengan cara melemparkan mereka makanan, sehingga para setan itu mengejarkan makanan bukan manusia. [2]
Gambar legenda funayurei dan dua orang nelayan.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Suatu hari, di Mizushimanada sebuah daerah di Laut Seto (daerah baratOkayama) terdapat sebuah perahu berisi dua orang pria menyusuri laut dengan sangat pelan sambil membawa barang-barang untuk festival tahun baru.[5] Di malam yang gelap, mereka terus mengayuh dayung dengan cepat, tetapi tiba-tiba hujan deras turun.[5] Tahu cuaca sangat tidak bersahabat, mereka tidak berhenti mendayung meskipun hujan memukul-mukul wajah mereka.[5] Selang beberapa saat, perahu mereka terhenti mendadak seakan-akan ada sesuatu yang menahan mereka.[5] Dari kejauhan, mereka melihat bola-bola api beterbangan diselimuti kabut. [5] Semakin dekat, mereka semakin paham bahwa itu adalah makhluk yang mereka takutkan selama ini, funayurei.[5] Sang funayurei lalu meminta hishaku, sejenis gayung untuk mengeruk air.[5] Kedua nelayan itu pun menolak, karena mengetahui apa yang akan terjadi dengan mereka.[5] Dengan ketakutan yang amat sangat, nelayan itu menarik kayuh dengan kuat, namun funayurei belum menyerah, hantu itu merebut paksa salah satu kayuh dari mereka.[5] Panik, salah seorang nelayan itu menyalakan lentera yang tersimpan di perahu, dan ternyata funayurei takut dengan nyala api, lalu pergilah mereka.[5] Legenda ini berasal dari daerah Okayama, dari buku dongeng zaman Edo yang berjudul “Kasshi Yawa.”[4]Para nelayan di desa itu masih menjual sendok hishaku dengan lubang untuk mengusir funayurei
Yūrei (幽霊?) adalah figur dalam cerita rakyat Jepang, yang sepadan dengan hantu. Istilah tersebut terdiri dari dua huruf kanji (), berarti "redup" atau "samar", dan (rei), berarti "jiwa" atau "spirit." Nama alternatifnya antara lain Bōrei (亡霊?) yang berarti arwah orang meninggal, Shiryō (死霊?) berarti jiwa orang mati, atau dalam pengertian yang lebih luas meliputi Yōkai (妖怪?) atau Obake (お化け?). Seperti padanan mereka dalam mitologi Tionghoa dan Barat, mereka diyakini sebagai jiwa setelah mati.

Mitologi

Menurut kepercayaan masyarakat Jepang, manusia memiliki spirit atau jiwa yang disebutreikon (霊魂?). Saat seseorang meninggal, reikon meninggalkan jasad dan memasuki tempat penyucian, tempat mereka menunggu selama upacara pemakaman dan pasacapemakaman dilaksanakan dengan layak, agar mereka dapat berkumpul dengan para leluhur. Jika ritual dilaksanakan dengan benar, maka reikon dipercaya sebagai pelindung keluarganya yang masih hidup dan akan kembali tiap tahun di bulan Agustussaat hari raya Obon untuk menerima ungkapan terima kasih.
Bagi seseorang yang tewas dalam cara yang tak lazim atau secara sadis, misalnyadibunuh atau bunuh diri, dan bila ritual yang benar tidak dilaksanakan, atau bila almarhum masih dipengaruhi emosi yang kuat seperti balas dendamasmara,kecemburuankebencian, atau kesedihan, maka reikon dipercaya akan berubah menjadi yūrei, yang dapat menyebrangi batas antara alam baka dengan alam fana (dunia manusia).
Yūrei berada di dunia manusia sampai ia menjadi tenang, baik dengan cara mendoakannya melalui upacara pemakaman yang layak dan benar, atau dengan memenuhi keinginan yang belum tercapai yang masih membelenggunya di dunia fana. Jika upacara tidak berlangsung dengan semestinya, atau bila keinginannya belum terpenuhi, maka yūrei akan tetap bergentayangan.

Ciri

Pada akhir abad ke-17, permainan yang disebut Hyakumonogatari Kaidankai menjadi populer, dan kaidan (cerita hantu) semakin sering menjadi subjek pementasan teaterliteratur, dan cabang seni lainnya. Pada masa tersebut, atribut-atribut tertentu disematkan untuk membedakan yūrei dengan manusia biasa, sehingga karakter yūrei lebih mudah dikenali.
Seniman ukiyo-eMaruyama Ōkyo membuat contoh terkenal pertama yang kini dikenali sebagai sosok yūrei secara tradisional, dalam lukisan Hantu Oyuki.
Pada masa kini, penampakan yūrei agaknya seragam, yang secara sederhana mengindikasikan sifatnya yang gaib, dan keaslian ciri kultural sosok tersebut sangat terasa.
  • Pakaian putih: biasanya Yūrei berpakaian serba putih, mencirikan tradisi kimono putih saat upacara pemakaman yang digunakan sejak upacara pemakaman zaman Edo. Dalam agama Shinto, pakaian putih dipakai karena putih adalah warna yang melambangkan kemurnian upacara, yang secara tradisional dipakai oleh para pendeta dan jasad yang dimakamkan. Kimono tersebut dapat berupa katabira (kimono polos, putih, tak bergaris) ataukyokatabira (katabira putih yang ditulis sutra Buddha). Kadangkala yūrei memakai hitaikakushi ("ikat kepala"), berupa potongan kain berbentuk segitiga yang diikat di dahi.
  • Rambut hitam: Biasanya rambut yūrei panjang, hitam, dan acak-acakan.
  • Tangan dan kaki: Tangan yūrei menjuntai lemas. Ciri khasnya tidak memiliki kaki, sehingga melayang di udara. Ciri ini berasal dari cetakan ukiyo-e zaman Edo, dan disebarluaskan dalam pementasan kabuki.
  • Hitodama: Seringkali yūrei ditemani oleh bola api atau hitodama, dengan warna biru, hijau, atau ungu. Bola api tersebut merupakan bagian terpisah dari yūrei dan bukan merupakan hantu tersendiri.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Meskipun makhluk kategori hantu Jepang disebut yūrei, dalam kategori tersebut ada beberapa tipe hantu berciri khusus, yang diklasifikasikan terutama menurt cara kematian atau alasan mereka kembali ke dunia manusia.
  • Onryō: Arwah penasaran yang kembali dari tempat penyucian karena perbuatan jahat yang dilakukan pada mereka saat mereka masih hidup.
  • Ubume: Hantu ibu yang meninggal saat melahirkan, atau meninggalkan bayinya yang baru lahir. Yūrei ini gentayangan untuk merasakan bagaimana mengasuh anak dan seringkali memberi manisan kepada anak-anak.
  • Goryō: Arwah penasaran dari golongan pejabat atau bangsawan, khususnya bagi yang dihukum mati demi mempertahankan prinsipnya atau karena masalah politik.
  • Funayūrei: Hantu orang yang tewas di laut. Hantu tersebut biasanya digambarkan sebagai sosok manusia bersisik ikan dan beberapa di antaranya berwujud menyerupai duyung.
  • Zashiki-warashi: Hantu anak-anak, seringkali bertingkah nakal daripada berbahaya.
  • Hantu Samurai: Para veteran Perang Genpei yang gugur dalam pertempuran. Hantu Kesatria biasanya tampil istimewa dalam pertunjukan Noh. Tidak seperti kebanyakan yūrei, hantu ini biasanya digambarkan berkaki.
  • Hantu Pemikat: Hantu wanita atau pria yang berkeinginan merasakan cinta setelah kematiannya, seperti yang dikisahkan dalam Botan Dōrō.


Yōkai

Yōkai (妖怪?) adalah kelas obake, makhluk dalam cerita rakyat Jepang(dengan banyak asal dari Tiongkok) yang terdiri dari setan oni sampai kitsuneatau wanita salju Yuki-onna. Beberapa merasuki binatang dan bagian fitur manusia (seperti Kappa dan Tengu). Yōkai umumnya memiliki kekuatan spiritual atau supernatural.


Yamauba

Yamauba (山姥?, nenek gunung) atau dibaca Yamamba adalah wanita tua golongan yōkai yang hidup di tengah hutan di gunung dalam legenda dan cerita rakyat Jepang. Ia digambarkan bertubuh tinggi, rambutnya panjang beruban semua, sudut luar mata tertarik ke atas, dan mulutnya lebar hingga ke telinga.[1] Nama lain untuknya adalah onibaba (鬼婆?, nenek oni) dan kijo (鬼女?).
Menjelma sebagai wanita berparas cantik, yamauba akan menawarkan tempat menginap kepada pelancong atau yang kemalaman di tengah gunung. Orang itu juga akan ditawari makan dan minum. Setelah tertidur, orang itu akan dimakan oleh yamauba. Legenda yamauba diperkirakan berasal dari tradisi membuang nenek di gunung dan cerita rakyat Ubasuteyama.

Legenda berbagai daerah[sunting | sunting sumber]

Yamauba, lukisan karya Toriyama Sekien (1712-1788), dari Gazu Hyakki Yagyō.
Kintaro bersama ibunya yang seorang yamamba, karya Kitagawa Utamaro.
Di kota Masaki (sekarang Ebino), Distrik NishimorokataPrefektur Miyazakidikenal legenda yamahime (putri gunung). Ia adalah yōkai berwujud wanita berambut panjang terurai yang menyanyi merdu.
Yamahime di Prefektur Okayama berwujud gadis sangat cantik berambut hitam sebahu, berusia dua puluhan tahun. Pakaiannya adalah kimono jenis kosodeyang coraknya tidak umum.[2] Pemburu yang tersesat dan kemalaman di gunung menembaknya. Peluru ditangkap yamahime dengan tangannya dan dia lalu tersenyum.
Penduduk di kawasan pegunungan wilayah TokaidoShikoku, dan selatanKyushu juga mengenal yamajijii (kakek gunung). Yamajijii tinggal bersama yamamba dan yōkai berwujud anak-anak yang disebut yamawaro atau yamawarawa. Di IwataPrefektur Shizuoka, yamababa digambarkan sebagai wanita lembut mengenakan pakaian dari kulit kayu. Ia meminjam panci dari rumah penduduk untuk menanak nasi. Hanya dua takaran beras yang ditanaknya, namun setelah matang panci itu penuh berisi nasi.
Di Hachijō-jimayōkai berwujud wanita tinggi besar yang disebut tejji (テッジ?)atau tenji menculik orang dan menyembunyikannya dari pandangan mata.[3]Kalau sudah akrab, tejji akan datang membawakan rumput untuk makanan kuda. Ia juga berhati baik. Kalau ada anak yang tersesat, maka anak itu akan dipeliharanya selama tiga hari.
Penduduk HarunoDistrik ShūchiPrefektur Shizuoka (sekarang Hamamatsu) mengenal yamamba yang disebut hocchobaa (ホッチョバア?). Pada malam hari, ia muncul di jalan setapak menuju gunung. Kalau terdengar suara-suara misterius dari gunung seperti suara orang berpesta, maka itu adalah ulah yamamba.
Korban yamamba dikisahkan sebagai para tukang yang menjajakan barang dagangan secara berkeliling, seperti pedagang yang memakai sapi atau kudauntuk mengangkut barang dagangan, pedagang ember kayu, atau pedagang perabot rumah tangga.[1] Mereka sering harus berjalan di jalan sepi di tengah gunung, dan bertemu dengan penduduk di tengah gunung. Kisah mengenai yamamba diperkirakan berasal dari mereka. Tokoh utama dalam cerita rakyatUshikata Yamamba (牛方山姥?) adalah seorang pedagang keliling yang mengangkut barang dagangan dengan memakai sapi.[4] Barang dagangannya dapat berupa ikan makerel asin atau salem asin. Pedagang itu dikejar yamamba setelah bertemu dengannya di jalan celah pegunungan. Yamamba meminta seekor ikan, dan mengancam akan memakan pedagang bersama sapinya kalau tidak diberi. Setelah diberi seekor ikan, yamamba langsung melahapnya mentah-mentah. Ikan dagangan akhirnya satu per satu dimakan oleh yamamba hingga habis, termasuk sapi yang dipakai mengangkutnya.
Seorang laki-laki kikir dalam cerita Kuwazu Nyobo (食わず女房?, Istri Tidak Pernah Makan Apa pun) mendambakan istri yang rajin bekerja sekaligus tidak menghabiskan makanan.[5] Seorang wanita yang memenuhi harapannya muncul, dan langsung dinikahinya. Meskipun istrinya tidak pernah makan, beras di rumahnya terus menerus berkurang. Ketika suaminya mengintip, ternyata wanita yang dinikahinya adalah futakuchi-onna penjelmaan yamauba yang memiliki mulut tersembunyi di balik rambut, di belakang kepalanya.
Yamauba memakan seorang janda sekaligus ibu dari tiga anak laki-laki dalam cerita Tendō-san no Kane no Kusari (天道さんの金の鎖?, Rantai Emas Dewa). Setelah menjelma menjadi ibu mereka, anak bungsu habis dimakan oleh yamauba.[6] Kedua kakaknya dikejar oleh yamauba hingga keduanya naik ke pohon. Mengetahui mereka tidak bisa melarikan diri lagi, mereka lalu memohon pertolongan dewa. Dewa menolong dengan cara mengulurkan seutas rantaiemas dari langit yang kemudian dipanjat kedua anak itu. Yamauba juga meminta pertolongan dewa. Namun bukan rantai emas yang diturunkan dewa, melainkan seutas tambang usang. Yamauba memanjat juga tambang itu yang lantas putus di tengah. Yamauba terjatuh di ladang gandum dan mati.
Dalam cerita Komebuki Awabuki (米福粟福?) atau Nukafuku Komefuku (糠福米福?), dua gadis kakak beradik tidak sekandung bernama Komebuki dan Awabuki bertemu dengan yamamba ketika keduanya sedang pergi memungutkastanye.[7] Kepada gadis berhati baik yang diperlakukan buruk oleh ibu tirinya, yamamba memberikan harta. Sebaliknya kepada gadis berperangai buruk, yamamba memberikan kemalangan.
Dalam legenda Ubakawa, yamamba digambarkan sebagai tokoh yang membawa keberuntungan untuk manusia. DiPrefektur Kochi, sebagian penduduk memuliakan yamamba sebagai dewi pelindung rumah. Menurut legenda, rumah yang dilewati yamamba akan langsung menjadi kaya.
Yamamba dari Gunung Ashigara di Provinsi Sagami dikisahkan sebagai seorang ibu dari Sakata Kintoki dalam cerita rakyat Kintaro. Menurut Konjaku MonogatarishuMinamoto no Yorimitsu menemukan Kintoki ketika sedang dalam perjalanan pindah dari Provinsi Kazusa ke ibu kota pada tahun 976. Ketika melewati Gunung Ashigara, Yorimitsu melihat awan merah di gunung sebelah sana. Menurut Watanabe no Tsuna, di bawah awan merah itu bersembunyi orang sakti. Ketika sampai di bawah awan merah, mereka menemukan sebuah gubuk beratap rumput. Di dalamnya tinggal wanita tua tinggal bersama anak muda berumur dua puluh tahunan yang berpenampilan seperti anak-anak. Ketika ditanya, wanita tua itu bercerita bahwa suatu malam, ia bertemu seekor naga merah dalam mimpi. Anak laki-laki yang dilahirkan diberi nama Kintoki. Yorimitsu berfirasat bahwa anak itu akan menjadi ksatria hebat. Anak itu dinamainya Sakata Kintoki, dan diangkat sebagai salah seorang dari empat pengawal terkuatnya.

Tsukumogami

Tsukumogami (Bahasa Jepang : 付喪神) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut tipe Yokai atau hantu Jepang yang berwujudbenda.[1] [2] [3] [4] Tsukumogami adalah sebuah konsep yang popular di dalam cerita masyarakatJepang, yang terkenal pada abad kesepuluh, yang tercampur dengan ajaran Buddha.[4] Aslinya, tsukumogami adalah sebuah benda yang telah digunakan hampir 100 tahun dan dirasuki oleh Yaoyorazu no kami (penyebutan 8 juta dewa di dalam ajaran shinto), dalam beberapa kasus, tsukumogami terbentuk oleh sebuah perasaancinta dan hormat orang yang melempar barang tersebut kepembuangan.  Oleh karena itu, mereka dapat hidup dan memiliki kesadaran layaknya manusia.
Biasanya mereka hanya memilih untuk menjahili orang yang jahat, atau menikmati kehidupan baru mereka, dan kadang kadang mereka melampiaskan dendam kepada orang yang telah membuang mereka.[1] [3] [4] Dan, segala apapun jenis barang, dapat menjadi tsukumogami asalkan barang tersebut telah digunakan oleh pemiliknya hampir 100 tahun.

Jenis

  1. Bake-Zori, adalah Tsukumogami yang berupa sandal yang sudah tidak terpakai dan berlari-lari di rumah tersebut sambil berkomat-kamit.[1]
  2. Biwa-bokuboku (Bahasa Jepang : 琵琶牧々), adalah Tsukumogami yang berupa Biwa (semacam kecapi) yang hanya dapat dimainkan oleh orang tertentu.[1] [5] [3]
  3. Bura-bura, adalah Tsukumogami yang berupa lampu yang terbuat dari kertas yang umumnya dipakai pada perayaan (lampion) dan mengeluarkan api dari mulutnya.[1]
  4. Kameosa, adalah Tsukumogami yang berupa sebuah botol sake, yang mana menerima sebuah kehidupan yang baik dari pemiliknya, dan akan menampung air dalam jumlah yang tidak terbatas.[1]
  5. Kara-kasa (Bahasa Jepang : 唐傘おばけ), adalah Tsukumogami yang berupa sebuah payung yang memiliki bulu di kakinya, lidah yang panjang dan hanya memiliki satu mata.[1] [5] [3]
  6. Mokumoku Ren, adalah Tsukumogami yang berupa sekat pintu dari rumah yang telah ditinggalkan, yang menatap kepada orang yang tidur dibelakangnya dan memilki mata di tiap lubangnnya.[1]
  7. Seto Taisho, adalah Tsukumogami yang berupa prajurit yang terbuat dari alat pemotong dan suka menyerangkoki.[1] Kebanyakannya tidak berbahaya, dan cenderung menghancurkan bagian diri sendiri.[1]
  8. Menreiki (Bahasa Jepang : 面霊気), adalah Tsukumogami yang berupa kumpulan topeng-topeng.[5]
  9. kotofurunushi (Bahasa Jepang : 琴古主), adalah Tsukumogami yang berupa koto, yakni alat musik tradisional yang dipetik.[5]
  10. Ungaikyo (Bahasa Jepang : 雲外鏡), adalah Tsukumogami yang tinggal yang kadang-kadang memiliki kekuatan gaib.[5] Mereka adalah iblis yang keluar dari dalam cermin antik.[5] [3]
  11. Fudemame-Kozō (Bahasa Jepang: 筆まめ小僧), adalah Tsukumogami yang berupa kuas untuk menulis.[3]
  12. Narigama (Bahasa Jepang : 鳴釜), adalah Tsukumogami yang pada asalnya merupakan sebuah mitos tentangteko besi yang dapat meramal keberuntungan.